
"Fotografi itu bagaimana kita menelaah cahaya. Itu Kuncinya."
Hari ini hari Minggu, biasanya banyak orang melepas penat ke sekitar Alun-alun Kota Bandung. Namun hari ini tidak terlalu banyak pengunjung. Tatang, pria paruh baya, berjalan di sekeliling Alun-alun. Sebuah kamera Fujica analog kusam terus dikalunginya. Tangannya memegang beberapa lembar foto hasil jepretannya.
Siang itu, di alun-alun begitu terik. Tatang masih terus berjalan menyusuri, mencari peruntungan. Terkadang ia menghampiri orang-orang sambil berucap “Ibu, bade foto? Untuk kenang-kenangan.” Jika diacuhkan, Tatang tetap tersenyum dan kembali lagi berjalan.
“Dulu saya sempat jualan, tapi karena hanya lulus SMP, ya saya jadi tukang foto amatir sampai sekarang, “ ujar Tatang. Baginya, fotografi memberikan peluang untuk menghidupi keluarganya. “Dulu sih saya jadi tukang foto keliling, tapi lama-lama cape, ya jadi tetep aja di sini. Lumayan kalau dulu pendapatannya bisa ngebiayaain empat anak, “ lanjut Tatang. Perlu diketahui, Tatang sudah menjadi penawar jasa foto sejak tahun 1977.
Bagi sebagian besar orang, invasi besar-besaran dari era teknologi digital banyak memberikan keuntungan. Namun tidak bagi Tatang. Terus berkembangnya si digital, semakin menyudutkan si analog. Ini berarti peluang usaha Tatang semakin hari semakin dipojokan. “Saat ini sudah banyak yang digital, pendapatan otomatis berkurang sekali, “ ujarnya.
Tarif yang ditawarkan oleh Tatang tidak menentu. “Sekitar 10.000 rupiah sampai 15.000 rupiah, tapi kadang ada juga yang Cuma 5000 rupiah, “ jelasnya. Namun Tatang tetap mensyukuri itu. “Ya kalau beruntung dalam sehari bisa mencapai 50.000 rupiah. Yang penting mah bisa nutupin untuk makan,” lanjut Tatang sambil tertawa.
Tatang mendalami dunia fotografi secara otodidak. Selama mejadi tukang foto keliling, Tatang semakin mengerti seluk beluk fotografi. “ Fotografi itu bagaimana kita menelaah tentang cahaya. Itu kuncinya, “ kata Tatang ketika ditanya mengenai arti fotografi bagi dirinya.
Tatang sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa bertahan dengan sebuah kamera analog hingga hari ini. “Saya pernah juga kerja yang lain, tapi ya ujung-ujungnya balik lagi ke foto. Mungkin susah kalau sudah terlalu cinta,” ujarnya.
Ketika Tatang bercerita, tiba-tiba seorang bapak dan anaknya menghampiri Tatang. Kemudian ia memberi dua lembar foto kepada bapak itu. “Lumayan untuk kenang-kenangan,” ujar si bapak sambil memberikan pecahan uang lima ribuan kepada Tatang.
“Nuhun Pak,” Tatang membalas dengan senyuman.
Alun-alun sudah mulai mendung. Kami harus segera beranjak.Masih banyak yang harus dikerjakan. Tatang pun masih harus bekerja lagi hingga petang. Tentunya dengan kamera analog kesayangannya.
6.01.2009
Dia yang Masih Bertahan
Posted by kamera kemari at 6/01/2009 11:03:00 PM 7 comments
Labels: di balik viewfinder
5.31.2009
DryBox: Melindungi Kamera Anda dari Serangan Jamur
Musim hujan dan udara dingin bisa menyebabkan kelembaban (humadity) meningkat loh.. ini yang menyebabkan lensa kita dapat ditumbuhi jamur. Bagi para penyayang kamera, kami ada saran yang dapat diikuti dalam menyimpan kamera agar tidak memelihara jamur di lensa kita, yaitu dengan DRY BOX!!
Dry box adalah kotak atau wadah yang telah dilengkapi dengan berbagai alat untuk menjaga dan megukur kelembaban. Dry box yang telah dilengkapi alat-alat seperti silica gel, dan hygrometer sebenarnya banyak dijual dipasaran. Namun harga yang ditawarkan juga cukup mahal(sekitar 360 ribu hingga jutaan rupiah). Maka kamerakemari akan menuntun para penyayang kamera untuk membuat dry box tanpa harus merogoh kocek anda dalam-dalam.
Ada beberapa hal yang perlu anda siapkan untuk membuat Dry Box murah meriah ini:
5. Karet busa. Karet busa digunakan untuk melapisi kamera, lensa, dan peralatan lainnya agar tidak berbenturan.
Cara pembuatan:
Hasilnya, anda dapat melihat milik saya yang masih minus hygrometer.
Selamat mencoba.
Posted by kamera kemari at 5/31/2009 09:14:00 PM 3 comments
Labels: Tutorial
5.30.2009
teknik dan pengetahuan dasar fotografi untuk pemula
Bagi para penggemar fotografi pemula atau yang lebih dikenal dengan sebutan new entry, dunia foto grafi mungkin merupakan suatu dunia baru yang cukup rumit. Kerumitan dalam dunia fotografi dimulai dari berbagai istilah yang tidak mengerti orang awam sampai dengan aturan-aturan komposisi. Dalam postingan kami kali ini, kami mencoba memberi tutorial sederhana tentang dasar pemahaman kamera dan teknik dasar fotografi untuk membantu para fotografer pemula yang baru mencoba dunia cahaya ini.
Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Foto ( Cahaya ) dan Graphia ( menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar.
Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik ( viewfinder ) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa. Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa.
Seperti dibahas terdahulu, fotgrafi berkaitan erat dengan cahaya, maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed ( Kecepatan Rana ) dan Aperture ( Diafragma ).
Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.
Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F dan dengan satuan sebagai berikut:
f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...
Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa ( f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0 ).
isi spoiler
Posted by kamera kemari at 5/30/2009 09:54:00 PM 0 comments
Labels: fotografi dasar, Tutorial
Workshop dari Lomography

BANDUNG-kamerakemari. Semakin hari, dunia semakin dihantui berbagai teknologi baru. Era digital semakin menjadi-jadi. Termasuk di dalamnya dunia fotografi. Diantara berbagai kemutakhiran gadget yang memanjakan penggunanya, Lomography Society Bandung memperkenalkan mengenai apa itu lomography yang masih berbasis analog.
Lomography Society Bandung mengadakan workshop yang membahas mengenai apa itu Lomography. Workshop ini merupakan penutupan dari rangkaian pameran bertajuk "Asian Lomography Faces Spread Some Love with Lubitel" yang telah diselenggarakan sejak 23 Mei 2009.
Workshop membahas mengenai seluk beluk lomography, dari sejarah hingga perkembangannya di dunia dan Indonesia. Oki dan Anwar Gomez selaku pembicara mengisi workshop dengan berbagai materi diselingi oleh foto-foto hasil jepretan kamera analog yang sedang naik daun ini.
"Awalnya Lomo itu produk gagal, namun saat ini jadi populer karena keunikan hasil-hasil tiap kameranya," jelas Oki. Lomography memiliki berbagai jenis kamera Lomo dengan berbagai keunikan masing-masing. "Semua kamera lomo menggunakan roll film, ada yang menggunakan format 35mm ada pula yang 120mm," lanjut Oki.
Sehabis workshop, para peserta diberi kesempatan untuk mencoba salah satu kamera Lomo, Lubitel. Sejumlah karya lomographer yang menggunakan Lubitel pun dipamerkan dalam acara ini.
Pameran Lomographer Bandung
Berbagai hasil jepretan lomographer Asia, Bandung dan Jakarta dipamerkan di Happy Go Lucky, Ciliwung, Bandung. Mereka menggunakan kamera Lomo Lubitel. Sekitar 40 karya dipamerkan di tiap sudut ruangan. Karya tersebut berasal dari lomographer di 5 negara,Hongkong, Singapura, Philipina, Taiwan, dan Indonesia. Untuk Indonesia, ka
rya datang dari wilayah Jakarta dan Bandung.
"Dari Jakarta dan Bandung, pameran akan dilanjutkan lagi ke Yogjakarta dan kemudian berakhir di Bali, " ujar Marko, salah satu anggota Lomography Society Bandung. Dengan adanya pameran ini, Lomography Society Bandung berharap masyarakat semakin mengenal apa itu Lomo dan semakin menghargai keunikan dari sebuah kamera analog.
Posted by kamera kemari at 5/30/2009 09:33:00 PM 0 comments
Labels: liputan kami
5.06.2009
Menonton Bioskop Dalam Genggaman
Telepon seluler atau akrab disapa handphone (HP) termasuk satu dari banyak teknologi yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Selalu ada penambahan aplikasi pada perangkat komunikasi yang sudah lazim digunakan (bahkan tukang ojek pun melayani pelanggan melalui SMS). Mulanya aplikasi kamera, music player, radio, video, hingga video call yang memanfaatkan teknologi 3G.
Belakangan ini, ilmuwan menyadari bahwa menyaksikan video ataupun foto dari layar HP sudah mulai membosankan. Dengan demikian munculah inovasi baru lagi dalam perkembangan teknologi komunikasi. Maka tahun 2008 kemarin, perusahaan MICROVISION menciptakan Pico Projector yang kemudian disebut dengan PicoP. Melalui PicoP inilah, gambar-gambar dari HP bisa diproyeksikan ke tampilan yang lebih besar. Ini bisa langsung di proyeksikan ke dinding ataupun bidang datar lainnya.
PicoP merupakan alat proyektor mini yang menggunakan 3 laser LED. Komponen di dalam PicoP diantaranya 3 laser LED (hijau, biru, merah), MEMS scanner,optik, dan elektronika. PicoP memiliki panjang kurang lebih 10mm. Si kecil ini memiliki resolusi gambar 850 x 480 pixel atau setara dengan kualitas DVD. PicoP ini hanya memproyeksikan satu cermin berukuran mikroskopis saja yang tersusun dalam sebuah Chip MEMS(micro-electro-mechanical-system). PicoP ini bekerja dengan menembakkan sinar laser lewat sebuah cermin getar. Cermin getar itu lalu akan memantulkan sinar untuk menghasilkan piksel yang memberi bentuk pada gambar.
PicoP akan bekerja sama dengan Motorola untuk menyempurnakan teknologi komunikasi. DIperkirakan produk seluler dengan PicoP akan diluncurkan akhir tahun 2009. Dengan demikian, telepon selular tidak hanya berfungsi sebagai penerima atau penyampai pesan belaka, namun dengan adanya PicoP fungsinya akan bertambah luas lagi. Misalnya saja sebagai media hiburan, pengguna telepon seluler semakin dim
Selain Motorola, Siemens Communication pun mengeluarkan ponsel proyektor. Ponsel ini pun dilengkapi dengan mikrofon dan speaker built-in, serta pen yang dioperasikan menggunakan bluetooth. Agar penggunanya bisa menulis, ponsel memancarkan keypad virtual pada sebuah permukaan dan selanjutnya Anda dapat mengetik pada keypad yang diproyeksikan. Untuk bisa bekerja seperti itu, pen itu bekerja dengan menggunakan software berupa kombinasi ultrasound dan infra merah.
Secanggih apapun suatu teknologi tentunya memiliki kelebihan dan kelemahan. PicoP memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
1.Berukuran sangat kecil dan konsumsi energinya sangat rendah.
2. Karena ukurannya yang kecil,PicoP bisa dikemas begitu ramping dalam ponsel yang kecil sekalipun.
3. Tanpa kipas dan tanpa alat-alat berat lainnya
4. Mampu menghasilkan gambar berkualitas DVD
5. Mudah digunakan bagi orang awam
Namun dibalik kelebihan yag ditawarkan, ada pun kelemahan yang masih dimiliki oleh PicoP, yaitu ketahanan baterai hanya 2.5 jam jika dipergunakan untuk melihat video.
Lalu apa yang terjadi jika Motorola atau Siemens meluncurkan produk semacam ini?
Dari sisi positifnya, pastinya akan memudahkan dalam hal berkomunikasi.
Dampak Kehadiran Pico Projector
Semua teknologi yang dilahirkan pastinya memilki dampak positif serta negatif dalam masyarakat. Dengan hadirnya teknologi Pico Projector, membawa dampak positif berupa:
• Memudahkan masyarakat untuk menikmati fasilitas multimedia layar lebar dengan harga terjangkau
• Menambah fitur multimedia dalam satu perangkat (telepon genggam)
• Jika dikombinasikan dengan teknologi 3G, maka komunikasi akan menjadi lebh interaktif
Sedangkan untuk dampak negatifnya, Pico Projector mengakibatkan:
• Bisnis bioskop/teater menjadi merosot
• Mengurangi lapangan kerja (efek lanjutan dari merosotnya bisnis bioskop)
• Masyarakat akan semakin kecanduan menggunakan telepon genggam
Referensi:
Referensi:
• http://insideit.wordpress.com/2008/0...el-tahun-2012/
• http://subari.blogspot.com/2008/02/t...projector.html
Posted by kamera kemari at 5/06/2009 10:35:00 PM 0 comments
Labels: Teknologi